Desa Gulang Mejobo Kudus
Sabtu, 21 Maret 2015
Profil Desa Gulang
BAB II
PROFIL DESA
2.1 Sejarah Desa
Menelusuri asal usul Desa Gulang , Bukanlah
pekerjaan yang mudah. Dikarenakakan sampai sekarang tidak ada dokumen secara
resmi yang dimiliki oleh pemerintah. Namun kalau kita menelusuri baik itu
cerita rakyat, serta peninggalan peninggalan yang sampai sekarang masih bisa
kita lihat itu satu bukti yang bisa rangkum untuk menjadi tulisan sejarah desa
Gulang pada masa lampau. Yang jelas Gulang keberadaanya bisa di katakan desa
yang sangat luas sekali.
Hal ini bisa lihat adanya petilasan “ Joko Gedug “
yang konon ceritanya adalah merupakan tokoh pada zaman kerajaan Malowopati (
sebelum kerajaan Majapahit ). Petilasan tersebut sampai sekarang masih banyak
di kunjungi orang baik itu warga gulang maupun warga luar kabupaten Kudus.
Sesuai sumber yang kita dapatkan dari yangdi kenal sebagai juru kunci petilasan
ki jogo Gedug yang mana Den Sur ( Suryadi ) bahwa :
Pada abad ke 13, sekitar 1300 M, Pada waktu itu
Prabu Anglkling Darma raja Malowopati mengalami sakit tidakl sadarkan diri
selama 2 tahun. Untuk pengobatanya ada seorang resi yang mendapatkan wangsit
untuk mencarikan telur Mliwis putih. Pada waktu itu Eyang Jogo Gedug / Ki Jogo Gedug sanggup
untuk mencarikan telur mliwis putih kemudian beliau mengembara dari desa Sumber
Mulya Sarang kabupaten Rembang ke arah barat dan berjalan sampai beberapa
bulan. Akhirnya sampailah suatu tempat yang belum ada namanya ( atau hutan
belantara ). Setelah tinggal beberapa lama di tempat itu, pada waktu menjelang
hampir pagi / fajar terdengar burung Blibis putih terbangnya ke arah selatan.
Setelah jalan ke selatan sampailah di sebuah rawa di situ ada pohon cankring.
Diatas pohon itu hinggap seekor burung dan burung itu di dekati Eyang Joko
Gedug / Ki Jogo gedug, akhirnya burung itu terbang. Setelah burung itu terbang
ada sebuah telur burung blibis yang terapung
diatas air. Kemudian telur itu di ambil ki Joko Gedug / Eyang Joko Gedug
dan di bawa ke kerajaan Malowapati Bojonegoro di aturkankepada abdi dalem
kerajaan Malowapati untuk di minumkan kepada prabu Angkling Darmo. Setelah di
minumkan pada saat itu juga prabu angkling darmo bangun . dan bercerita kalau
dirinya tidak merasa sakit bahkan dia di ajak keliling dunia oleh seorang
wanita yang bernama Batari Pandansari.
Setelah itu eyang Joko Gedug di suruh tinggal di dalam kerajaan Malowapati
sampai beberapa tahun untuk menjadi abdi dalem kerajaan Malowapati. Suatu
ketika Eyang Joko Gedug teringat pada waktu sejarah penemuan telur Belibis
putih. Akhirnya beliau memutuskan untuk kembali ke tempat di temukanya telur
burung Belibis Putih. Ditempat itu akhirnya menjadi tempatorang banyak menimba
ilmu penyembuhan atau belajar. Ilmu penyembuhan kemudian di sebutlah Gulang
yang berasal dari kata Gegulang yang artinya belajar.
Dilhat dari peninggalan yang lain diantaranya
terdapat makam ki Gede Gulang / Kyai ageng Gulang. Yang konon ceritanya beliau
adalah tokoh Suer ( Punggawa Demak )
yang sampai sekarang juga masih di kunjungi banyak orang bahkan di lakukan tradisi
masyarakat yang berupa “Bukak Luwur”
dalam setiap tahunya. Bahkan kisah ki Gede Gulang telah tercatat dalam buku
yang berjudul “ Kudus Purbakala dalam Perjuangan Islam” yang di tulis oleh
Solichin Salam yang d terbitkan oleh penerbit “ Menara Kudus” tahun 1977.
Dalam buku tersebut tertulis, “ Adapun di Desa Loram
ini ada Sebidang Tanah yang di sebut Pasiten ( lemah Putihan ) yang katanya
dulu tanaman tanamanya di sebelah
selatan kalau merayap ke utara daunya menjadi kering begitu pula sebaliknya.
Karena ceritanya pada zaman dahulu semasa hidupnya, Kyai Ki Gede Gulang / Kyai
ageng Gulang dengan Kyai Gede Loram sering bertengkar. Karena itu sesudah
meninggal dunia kedua mayat tersebut di makamkan saling bertukar tempat, yaitu
Ki Gede Gulang di makamkan di daerah Kyai Gede loram demikian pula sebaliknya.
Kalau kita lihat dari uraian buku tersebut bsa di prediksikan ki Gede Gulang
hidup di masa abad ke 15 / pada tahun sekitar 1574 M. Keterangan tersebut juga
di perkuat oleh bapak Gutomo dan Kyai Ahmad Syamsuri ( Gus Mad ) yang saat ini
beliau melanggengkanb Haul / tradisi “Buka Luwur” di makam ki Gede Gulang
karena bilau meyakini bahwa wali Gulang adalah Ki Gede Gulang.
Dalam peninggalanya yang lain pula banyak tempat
tempat di bagian desa gulang yang konon ceritanya terjadi pembuatan masjid yang
tidak jadi / masjid bubar serta tempat di dekatnya bernama bagas yang berasal
dari kata “Bahas”tempat tersebut adalah tempat untuk berkumpulnya tokoh tokoh
untuk mendirikan masjid bubar tersebut serta membhas permasalahan permasalahan
yang ada. Di yakini masjid bubar tersebut adalah pembuatan masjid sebelum
masjid agung demak. Desa gulang juga tercata dalam buku perang cina dan
runtuhnya Negara jawa , 1725-17-43”
Hak cipta Williem Gj Remmelink
Di terjemahkan dari judul asli The Chienese War and
The Collapse of Javanese State, 1725-1743.
Hiden 1994, Pertama kali di terbitkan dalam bahasa
Indonesia oleh penerbit jendela
Jalan Gejayan Gg buntu II/5A Yogyakarta 55281
Telp / Fax :
0274-518886
Email :
jendelapres@kompascyber.com
Cetakan Kedua, September 2002
Dikisahkan dalam buku tersebut desa gulang adalah
lokasi yang terjadi perang sengit antara cina dan VOC yang mengakibatkan
runtuhnya Negara jawa ketangan Hindia Belanda. Hal tersebut juga dapat di
buktikan dalam adanya makam cina (bong) di desa Gulang yang tersebar dalam
beberapa tempat.
Pertempuran sengit di Desa Gulang itu VOC di pimpin
oleh kapten Gerrit Mom dan Van Hohendroff. Berjalan sampai beberapa bulan
sampai di desa yang belum ada namany. ( desa Gulang masih hutan belantara),
setelah tinggal sampai beberapa bulan menjelang hampir pagi terdengar suara
burung Belibis ternyata di lihat ternyata burung belibis putih terbangnya kea
rah selatan. Setelah sampai di sebuah rawa ada pohon cangkring ada burung yang
hinggap di dekati eyang Joko Gedug. Setelah burung terbang ada sebuah telur
burungBelibis yang terpung di atas air. Kemudian telur itu di ambil ki Joko
Gedug / Eyang Joko Gedug dan di bawa ke kerajaan Malowapati Bojonegoro di
aturkankepada abdi dalem kerajaan Malowapati untuk di minumkan kepada prabu
Angkling Darmo. Setelah di minumkan pada saat itu juga prabu angkling darmo
bangun . dan bercerita kalau dirinya tidak merasa sakit bahkan dia di ajak
keliling dunia oleh seorang wanita yang
bernama Batari Pandansari. Setelah itu eyang Joko Gedug di suruh tinggal di
dalam kerajaan Malowapati sampai beberapa tahun untuk menjadi abdi dalem
kerajaan Malowapati. Suatu ketika Eyang Joko Gedug teringat pada waktu sejarah
penemuan telur Belibis putih. Akhirnya beliau memutuskan untuk kembali ke
tempat di temukanya telur burung Belibis Putih. Ditempat itu akhirnya menjadi
tempatorang banyak menimba ilmu penyembuhan atau belajar. Ilmu penyembuhan
kemudian di sebutlah Gulang yang berasal dari kata Gegulang/ belajar. Banyak
pula nama nama di bagian desa Gulang seperti Demangan, Goleng, yang perlu di
pecahkan atau di telusuri asal usul nama tersebut. Setelah membaca rangkuman
cerita di atas maka perlu ada pengkritisan, saran, serta masukan. Banyak tokoh
menyakini bahwa kata Gulang berarti dari kata unggule piwulang ( ilmu yang
paling luhur). Hal itu juga pernah di ungkapkan oleh kyai jamilin dalam khutbah jumat di Majid darur Rohmah.
Untuk itu si perangkum dan penulis mohon maaf atas
ke tidak sempurnaan dalam penulisan penulisan ini sedangkan kebenaran dan
kefatilan rangkuman tulisan ini adalah pembaca yang akan menyimpulkan. Namin
perangkum dan penulis dapat menyimpulkan dari dasar cerita di atas bahwa nama
tempat Gulang sudah ada sejak zaman kerajaan Malowopati pada abad ke 13l, namun
secara pemerintahan mungkin ada pada jaman setelah kerajaan Malowopati. Apkah
itu zaman Singosari atau majapahit yang jelas pada puncak kejayaan dan
ketokohan adalah pada zaman Demak dengan figure tokohnya yaitu ki Gede Gulang.
Demikian rangkuman dan tulisan ini yang dapat kita
suguhkan sebagai bahan referensi dalam kebutuhan kebutuhan yang lain.
Perangkum :
H. Nur Hartoyo, SH
Penulis :
Hj Mila Susanti
Langganan:
Postingan (Atom)